← Blog
Berita

Harga Rumah Masih Naik di 2026, Tapi Pasar Belum Sepenuhnya Pulih

Harga properti residensial Indonesia naik 0,69% pada kuartal II 2026. Di saat yang sama, penjualan rumah mulai membaik meski masih mengalami kontraksi. Bagaimana kondisi ini memengaruhi calon pembeli properti?

Pasar properti residensial Indonesia menunjukkan perkembangan yang menarik pada pertengahan 2026. Harga rumah masih bergerak naik, sementara aktivitas penjualan mulai menunjukkan perbaikan setelah mengalami tekanan cukup dalam pada awal tahun.

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, Indeks Harga Properti Residensial atau IHPR di pasar primer tumbuh sebesar 0,69% secara tahunan pada kuartal II 2026.

Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 0,62% secara tahunan.

Harga Naik, Tapi Masih Terbatas

Kenaikan sebesar 0,69% menunjukkan bahwa harga properti secara umum masih bertumbuh, tetapi belum mengalami lonjakan yang agresif.

Kondisi seperti ini menarik untuk diperhatikan calon pembeli. Ketika pergerakan harga relatif moderat, pembeli mempunyai kesempatan lebih besar untuk membandingkan beberapa pilihan properti, lokasi, fasilitas, hingga skema pembiayaan sebelum mengambil keputusan.

Penjualan Rumah Mulai Membaik

Dari sisi transaksi, pasar properti juga menunjukkan perbaikan.

Bank Indonesia mencatat penjualan properti residensial primer pada kuartal II 2026 masih mengalami kontraksi sebesar 2,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski masih berada di zona negatif, angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan kuartal I 2026 ketika penjualan terkontraksi hingga 25,67% secara tahunan.

Perbaikan terutama ditopang oleh penjualan rumah tipe kecil dan besar, sementara penjualan rumah tipe menengah masih relatif terbatas.

KPR Masih Menjadi Pilihan Utama

Hal lain yang menarik adalah cara masyarakat membiayai pembelian rumah.

Pada kuartal II 2026, sekitar 70,05% pembelian rumah di pasar primer dilakukan menggunakan Kredit Pemilikan Rumah atau KPR.

Artinya, akses terhadap pembiayaan perbankan masih memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas pasar properti di Indonesia.

Suku bunga, besarnya uang muka, tenor kredit, kemampuan membayar cicilan, hingga proses persetujuan bank menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan calon pembeli sebelum menentukan properti.

Apakah Sekarang Waktu yang Tepat Membeli Properti?

Tidak ada satu waktu yang otomatis menjadi waktu terbaik untuk semua orang membeli rumah.

Keputusan membeli sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, kondisi keuangan, lokasi yang dibutuhkan, serta kemampuan mempertahankan pembayaran dalam jangka panjang.

Bagi pembeli yang mencari rumah untuk dihuni, akses menuju tempat kerja, sekolah, fasilitas kesehatan, transportasi, keamanan lingkungan dan kualitas kawasan sebaiknya menjadi pertimbangan utama.

Sementara bagi pembeli dengan tujuan investasi, potensi perkembangan kawasan, permintaan sewa, harga tanah di sekitar lokasi, akses infrastruktur dan likuiditas properti juga perlu dianalisis.

Jangan Hanya Melihat Harga Jual

Harga murah belum tentu berarti sebuah properti memberikan nilai yang lebih baik.

Calon pembeli juga perlu memeriksa legalitas, kondisi bangunan, akses jalan, fasilitas sekitar, biaya renovasi, potensi banjir, hingga rencana perkembangan wilayah.

Properti merupakan aset bernilai besar dan umumnya digunakan dalam jangka panjang. Karena itu, keputusan yang matang jauh lebih penting daripada sekadar mengejar harga termurah.

Kesimpulan

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pasar properti residensial Indonesia pada kuartal II 2026 mulai menunjukkan perbaikan. Harga masih bertumbuh secara terbatas, sementara kontraksi penjualan semakin kecil dibandingkan kuartal sebelumnya.

Bagi calon pembeli, kondisi pasar seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk melakukan riset lebih dalam dan membandingkan berbagai pilihan sebelum mengambil keputusan.

Sumber: Bank Indonesia — Survei Harga Properti Residensial Triwulan II 2026